Asyiknya Bergabung di Komunitas Membaca
Dulu, di zaman SD kalau ditanya apa hobiku, aku jawab membaca buku. Padahal aku bukan kutu buku, bukan pula yang paham dunia literasi, aku cuma suka buku! Kesukaanku pada buku tidak lepas dari usaha Abi -ayahku- untuk meningkatkan minat baca kami, anak-anaknya (semoga jadi pahala jariyah untuk beliau, aamin). Abi rajin menyediakan kami bahan bacaan, sampai kakak perempuan dan adik laki-lakiku yang saat itu lagi demam sepak bola, Abi belikan koran bola untuk mereka. Adik perempuanku hobi mengoleksi novel KKPK (Kecil-Kecil Punya Karya). Kami juga suka bergantian baca serial petualangan Lima Sekawan dan membahas bagian yang seru.
Di rumah ada perpustakaan berupa rak-rak yang sebagian besarnya diisi buku-buku milik Abi. Pernah ada teman sekolah yang main ke rumah dan lihat buku-buku itu bertanya apakah aku sudah membaca semua buku di sana? Oh, tentu saja tidak! Apalagi di masa sekolah, aku punya genre bacaan favoritku sendiri, yaitu buku fiksi seperti cerpen dan novel. Diantara penulis novel yang karyanya mewarnai hari-hari remajaku adalah Afifah Afra, Asma Nadia, dan Habiburrahman El-Shirazy.
Kata Al-Jahidz saat menjelaskan tentang buku:
نعم الأنيس لساعة الوحدة
Di zaman kuliah, sangat disayangkan karena aku bukanlah mahasiswi yang rajin bolak-balik perpus, tetapi hubunganku dengan buku masih terbilang cukup baik. Aku sangat senang saat Abi memberiku hadiah buku berbahasa Arab untuk mendukung pembelajaranku dan tentu saja untuk menemaniku yang sedang ngekos di luar kota. Diantaranya adalah Buku Istamti' Bihayaatik karya Muhammad Al-Arifi, Iftah an-Nafidza Tsammata Dhou' dan Mau'id ma'al Hayah Karya khalid bin Sholih Al-Munif. Buku-buku tersebut berisi tentang cerita motivasi dan seni menjalani kehidupan. Bacaan yang ringan dan menyegarkan cocok untuk cemilan setelah setiap hari melahap buku-buku modul perkuliahan.
Setelah menikah dan hidup di perantauan, alhamdulillah gak lupa berbekal beberapa buku baru yaitu cerita inspiratif pengasuhan anak di bumi Eropa; Awe Inspiring Us karya Dewi Nur Aisyah dan Phd Parents' Stories karya Ario Muhammad. Meski sudah berusaha makin mesra dengan buku, aku menyadari bahwa aku masih jauh dari predikat Gila Baca. Karena tak ingin minat bacaku semakin pudar, aku merasa bahwa aku butuh komunitas baca buku. Bergabung dengan sesama teman wanita dengan minat yang sama pasti menyenangkan. Alhamdulillah, Allah mudahkan jalanku bertemu dengan dua komunitas positif berikut:
1. KITAB (Komunitas Cinta Buku)
Lewat seorang teman (jazaahallahu khairan) aku kenalan dengan mbak NWA, pendiri Komunitas Cinta Buku. Aku bergabung di grup WA KITAB pada July 2022 lalu bersama 30 anggota lainnya. Sistemnya adalah kami membaca selama 100 hari. Targetnya adalah menanamkan kebiasaaan membaca jadi bagi yang tidak punya buku fisik-pun tetap bisa bergabung karena dibolehkan untuk membaca e-book ataupun artikel daring, selama itu non-fiksi (sosmed tidak termasuk).
Setiap anggota memilih durasi sesuai kemampuan, dimulai dari 15 menit, 30, 45, hingga 60 menit dalam satu hari. Presensi harian disetorkan dengan bentuk stiker, bagi yang berhasil konsisten membaca selama 100 hari berturut-turut tanpa absen maka ada hadiah buku dari admin. Setelah itu angota juga diberi kesempatan jika ingin menulis review atau resensi dari buku yang sudah dibaca tapi ini bersifat tidak wajib. Anggota yang absen selama sepuluh hari berturut-turut tanpa ada kabar akan dikeluarkan dari grup dan diperbolehkan mendaftar kembali pada kesempatan lain. Setiap selesai 100 hari, kami ada libur sampai nanti dimulai tahap berikutnya.
Menurut pengalamanku, pagi hari adalah waktu yang cocok untuk membaca terutama baca buku yang lumayan memutar otak. Jika sudah lewat sore hari dan daya fokus mulai melemah, aku memilih bacaan yang ringan dicerna, seperti artikel yang memuat opini dan cerita pengalaman. Disamping baca artikel daring dan baca buku comot-comot, ada tiga buku yang -biidznillah- berhasil selesai dibaca bareng temen-temen KITAB, yaitu buku Make Time, Miracle In The Andes, dan Things Left Behind. Beberapa bulan lalu kami baru menyelesaikan tantangan 100 hari, dan saat ini kami sedang masa libur. Oya, untuk gabung jadi anggota KITAB tidak dipungut biaya sepeserpun! Semoga Allah yang membalas kebaikan mba NWA dengan pahala yang berlipat ganda, Aamiin!
2. Jejak Pustaka Beekind
September 2024 lalu aku bergabung dengan komunitas Beekind. Komunitas ini didirikan sebagai wadah yang merangkul para ibu dan wanita pada umumnya. Meskipun tergolong baru, komunitas Beekind sudah menelurkan beberapa project yang berjalan cukup aktif, salah satunya adalah kegiatan membaca buku di program Jejak Pustaka.
Anggota ditantang untuk membaca buku non-fiksi selama 30 hari dengan jeda libur tiap akhir pekan. Setiap hari anggota membaca minimal satu halaman lalu melakukan presensi di grup WA dengan format nomor absen, nama, dan kutipan dari buku yang dibaca. Kutipan ini boleh dicatat manual di grup, boleh juga dicatat di buku tulis lalu difoto, boleh juga di share di Instagram Story dengan template yang sudah disediakan admin.
Targetnya adalah para anggota dapat menyelesaikan satu buku lalu lanjut ke buku berikutnya. Anggota yang absen sebanyak empat kali tanpa kabar akan dikeluarkan dari grup dan diperbolehkan bergabung kembali. Desember ini aku dan teman-teman sudah memasuki putaran ketiga dengan kata lain kami menuju hari ke-90, tepatnya di 17 Januari 2025 mendatang. Dengan izin Allah aku sudah berhasil menamatkan dua buku bersama BeeFriends: Seni Mendidik Anak Agar Mandiri, dan Alhamdulillah, Balitaku Khatam Al-Qur'an.
Membaca sebuah buku dengan konten dan gaya bahasa yang sama setiap harinya ternyata berpotensi memicu rasa bosan. Agar dapat bertahan, kami menemukan solusi bahwa selama target membaca satu halaman sudah diraih, kami bisa rehat atau pindah buku untuk selingan. Sisi positif membaca satu buku adalah rasa candu ingin cepat menuntaskannya, jadi meskipun akhir pekan adalah libur setoran tetapi bukan berarti libur membaca. Seperti KITAB, mendaftar Jejak Pustaka juga gratis, loh! Semoga Allah membalas kebaikan untuk semua yang berkontribusi dalam program ini, Aaamin!
Untuk saat ini aku masih betah di komunitas baca karena aku merasa mendapat banyak manfaat. Aku dapat menambah referensi dari bacaan anggota lain yang bermacam-macam, dari buku islami, pengembangan diri, politik, pengasuhan, kedokteran, bisnis, dll. Aku juga berharap sosok ibu yang candu buku menjadi tontonan yang terekam oleh anak-anak di rumah yang secara tidak langsung mengajarkan mereka akan cinta literasi. Selain itu, aku menemukan kembali sosok diriku yang bisa berlama-lama dengan buku. Kesibukan mengurus keluarga dan sulitnya mencari waktu ideal untuk membaca tidak lagi menjadi alasan untuk menelantarkan si jendela dunia. Aku tidak mau lupa bahwa benda yang sejak kecil bisa membawaku terbang ke dunia imajinasi, kini, seharusnya dia juga bisa membawaku terbang menuju kedewasaan dan kebijaksanaan, Insyaa Allah!
Meski kegiatan membaca buku ini memiliki segudang manfaat, aku sepenuhnya percaya dan dapat memahami jika di luar sana ada yang tidak hobi membaca. Mereka memiliki gairah serta minat di bidang lain dan aku sangat menghargai itu. Tetapi, jika kamu termasuk orang yang hobi membaca tetapi sedang tersedot oleh distraksi teknologi atau kamu ingin mengobarkan kembali semangat membaca di dalam dirimu yang sudah lama padam, maka bergabung di komunitas membaca bisa menjadi solusi.
Jujur aku kagum dengan mereka yang sudah amat lekat dengan buku, terbiasa membaca, mengalir begitu saja tanpa harus diberi tantangan, tetapi membaca bersama teman komunitas juga bukanlah hal yang buruk, justru sangat positif. Tetaplah bersemangat, luruskan niat, dan minta petunjuk dari-Nya dalam apa yang kita baca. Semoga Allah berkahi dan ridhoi jalan kita semua yang ingin melaksanakan perintah-Nya pada wahyu pertama yang turun; IQRA! Bacalah!
Memang gampang-gampang susah menjelaskan nikmatnya membaca pada yang ga senang baca, but it's oke, yang penting kita bisa membuat anak terinspirasi bahwa buku itu 'sahabat' setia.
BalasHapus