hanya menulis apa yang membuatku senang saat membacanya~

AHLAN

Selamat datang di blog ini.
Enjoy Reading !

Kamis, 02 Maret 2017

Bittersweeet winter


Maha suci Allah yang telah menciptakan berbagai musim. Musim panas, gugur, dingin dan semi, begitulah Allah menciptakan 4 musim secara berurutan dimana musim semi dan gugur adalah musim penstabil suhu, diciptakan diantara musim yang extreme (panas dan dingin).

Pertama diriku menginjakkan kaki di negeri gingseng ini, pertengahan agustus tahun 2016 kemarin, disaat musim panas  telah sampai pada ujungnya, beberapa minggu setelah itu datanglah musim gugur dengan gerakanya yang sangat halus. 

09/09/16 saat semuanya masih hijau dan segar



Aku begitu menikmati musim gugur meski bagiku awal musim ini sudah termasuk dingin, karena angin pembuka musim ini sangat sejuk.

15/10/16 crayon musim gugur mulai merubah warna pepohonan



dedaunan yang akhirya memilih untuk jatuh

Saat itulah aku mulai mengkhawatirkan musim dingin, akankah aku bertahan ?

Alhamdulillah puji syukur kepada Allah yang menjadikan musim dingin tahun ini tidak terlalu extreme, bisa dibilang tahun kemarin sangat extreme, bahkan di kota yang kami tinggali, berkali-kali turun salju.

04/12/16
Aku sangat lega karena masih dapat bertahan meskipun tidak melihat salju (karena dalam benakku sudah terbayang serunya main salju dan indahnya pemandangan serba putih itu).

Sebenarnya musim dingin tidak begitu mengancamku, karena aku bukan pengendara mobil, bukan pula yang setiap hari harus keluar apartemen menuju kampus ataupun kantor dengan menghadapi dinginya cuaca serta angin yang menusuk tulang.

Tetapi tetap saja musim ini agak ‘unik’, karena musim ini menyebabkan berbagai tragedi kecil pada diriku, antara lain:

1.    Bahan makanan yang mengeras meski ditaro di luar kulkas. 

Salah satunya Nuttela,, pada mula membeli nutella teksturnya sangat lunak dan mudah dioleskan diatas roti, lama kelamaan ia mengeras dan aku sangat kesulitan dan jatohnya males konsumsi nutella lagi hahaa.

Begitu juga susu kental manis, harus di deketin ke kompor yang menyala dulu baru bisa mudah diteteskan, juga margarin, sambal jadi, dll.

2.    Ketergantungan pada pemanas.

Hidup di Korsel sebagai perantau dan mashasiswa (suami) sangat berat untuk menghidupkan pemanas ‘gas’ di dalam ruangan dikarenakan biaya yang sangat mahal, maka dari itu kita membeli pemanas ruangan seperti tungku, juga selimut panas yang diletakkan diatas kasur, sebenarnya ini lebih hemat karena memakai daya listrik, bukan gas, tetapi karena digunakan secara terus menerus lumayan juga tagihanya ๐Ÿ˜‹ apalagi buat aku yang gabisa dingin. 

3.    Kulit jadi kering.

Ini bisa diatasi dengan memakai pelembab wajah atau masker madu, dan minyak zaitun, juga lotion tubuh untuk menjaga kelembaban kulit agar tidak kering berlebihan.

4.    Buah-buahan dan sayuran mahal.

Ini sudah jelas kecuali buah musim dingin (salah satunya stroberi) itupun pada mulanya mahal, lalu lama-lama jadi murah. hehe

5.    Jemuran sulit kering. 

Jelas dong, kan saat menjemur pakaian kita sangat bergantung kepada panas matahari. Di musim dingin meski matahari besinar tetap saja presentase panasnya sangat kecil, terlebih lagi jika jemuran diletakkan di dalam apartemen dan hanya berharap pada cahaya yang menembus ke jendela kaca, sudah bisa dibayangkan kan, apa jadinya cucian yang terus menumpuk dan tidak juga kering. 

Jadi kita memutuskan untuk beli jemuran besi dan ditaro di lantai paling atas gedung dengan pintu (dibuka) menuju atap , tadinya mau ditaro di rooftops/atap, tetapi karena khawatir hujan, asap dll, akhirnya ditaro di tempat yang kena angin dan cahaya tetapi ‘aman’. Problem is Solved, Alhamdulillah…

6.    Wudhu yang menggigit tulang.

Meskipun sudah memakai air hangat, tetap saja badan ini menggigil setiap habis wudhu. Cukuplah sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam sebagai penghibur dan penguat:

ุฅِู†َّ ุนِุธَู…َ ุงู„ْุฌَุฒَุงุกِ ู…َุนَ ุนِุธَู…ِ ุงู„ْุจَู„َุงุกِ
   “Sesungguhnya besarnya pahala tergantung dengan besarnya ujian”
[HR. at-Tirmidzi no. 2396 dan Ibnu Mรขjah no. 4031 (Ash-Shahรฎhah no. 146)]

Ya! Besarnya pahala tergantung pada usaha yang dikorbankan. Jadi semoga saja semua usaha kita untuk menyempurnakan ibadah dihapadan Allah tidak sia-sia, bahkan dilipat gandakan karena kesulitan dan berbagai ujian yang kita hadapi saat melaksanakanya.

Namun, semua 'kesulitan' di atas bukan apa-apa dibandingkan kemudahan yang aku dapatkan. Harus banyak-banyak bersyukur….

Karena musim dingin yang tadinya menghantui ku dan membuatku sedikit kepikiran (stress) ternyata tidak seburuk itu, bahkan beberapa orang terkena penyakit musim dingin, seperti bibir pecah-pecah akut, tulang sakit dan susah berjalan, kulit gatal dan luka sampai ‘korengan’ serta masih banyak lagi.

Alhamdulillah aku masih dijaga Allah dari segala penyakit itu dan kesulitan lainya, dan semoga kita selalu dijaga oleh-Nya pada setiap musim dan waktu. Aaamiin ๐Ÿ’™
 
04/12/16 pohon yang bertahan meski ditinggalkan oleh daun sambil berharap ia datang kembali

Segala sesuatu memang harus ada pembiasaan, pada awalnya aku belum terbiasa di suhu dingin, bahkan sampai minus (yang menggigit), aku pernah coba mematikan penghangat dan memakai berlapis-lapis jaket dan sweater, tetapi tidak dapat bertahan lama, kondisi tubuh makin tidak karuan, akhirnya meski memakai baju berlapis, pemanas juga nyala. Apalagi saat keluar rumah, ditambah jaket tebal yang menjadikanku seperti boneka salju (bulat) ๐Ÿ˜‹

Tetapi dari pertengahan Februari aku sudah merasakan perbedaan suhu, aku bisa keluar rumah hanya dengan memakai jaket tebal, tanpa lapis-lapis (seperti kue lapis..yummy), juga di dalam rumah sudah tidak ketergantungan pada lapisan sweater dan jaket…satu demi satu terlepas secara bertahap dan akan kembali normal (pada akhirnya).

Musim dingin akan segera berakhir. Aku harus sedih atau senang ?

Kamis, 26 Januari 2017

Kangen Masakan Nusantara


JOE NEUN KOHYANG EUMSIKEUL MOGOSIPOYO๐Ÿ˜™

CURHAT

Aku kangen banget sama masakan Indonesia!

Kemarin, waktu masih di Indonesia, bisa dibilang aku anak rumahan, maksudnya ga hobi makan-makan di luar, atau wisata kuliner, makan diluar tuh kalo lagi hang out bareng temen, sepupu, atau mampir setelah belanja (dan ga sering juga).

Tapi aku pu mengakui bahwa masakan rumahan tuh paling mantap, kebersihan terjamin, sehat, enak!

Beda sama masakan luar yang secara penampilan mungkin oke, tapi soal rasa kadang ada yang mengecewakan. Aku lagi gak mengeneralisir yaa, hanya saja seringnya begitu, ini masalah selera sih. 

Tapi kalau lagi hidup di Jakarta, sebagai anak kosan, ya kadang suka ‘jajan’ juga sih, pelarianya antara lain: nasi goreng, gado-gado, fried chiken, nasi padaang, pecel lele, dll.
Untuk jajanan, aku suka beli mie ayam,  siomay, cimol, martabak dll.

INDONESIAKU

Dan kini aku menginjakkan kaki di bumi Korea Selatan, belum lama hidup disini, langsung deh kangen banget sama semua (garis bawah) makanan Indonesia, semua terasa enak di bayanganku.
Karena masakan Indonesia tuh unik! bayangin aja, Indonesia terdiri dari berbagai pulau, dan setiap pulau ada beberapa daerah….yaaang, setiap daerahnya itu punya makanan khas masing-masing, dan bumbu yang berbeda.

Apalagi Indonesia diberkahi dengan iklimnya yang tropis, itu jelas berpengaruh terhadap apa yang tumbuh diatasnya, buah-buahan yang beraneka ragam, sayuran, rempah-rempah dll.
Istimewa lah pokoknya.

Aku suka ngebayangin banyak hal, dari nasi bungkus warteg, yang isinya macem2 dan berwarna-warni (kuah santan kuning, kuah merah,dll). Ahh ga sampai hati deh. 

   foto diambil dari google
                                                                                                       
 Juga nasi padang, dengan sambal ijonya juga kuah nangkanya..brrr

Juga rujak buah (dengan aneka macemnya: ulek,serut,bebek,dll) yang segarrrrrrrrrrr.
Dan lain-lain… Dan sebagainya.. Dan seterusnya. 

SOLUSI

Jujur aja aku gabisa membuat semua yang aku inginkan, karena ini bukan Indonesia, so bahan-bahan ‘khas’ gabisa didapatkan. Ditambah lagi baru terjun ke dunia dapur secara langung jadi belum berpengalaman dan belum jago masak, tambah sulit rasanya !

Jadi, berhubung disini Wifi lancar, akhirnya buka youtube (hobi baru saat itu), channel-nya Mark Wiens disitu aku ikut menikmati masakan Thailand, India, dll, yang paling favorit ya Indonesia tentunya.

Ada juga channel Maangchi, ini khusus masakan korea, bisa dibilang sekalian pengenalan bumbu-bumbu juga cara masak makanan korea, dan ada saatnya aku juga ‘ngiler’ sama masakan-masakan ini. Tetapi dilihat dari bumbu-bumbunya yang sedikit asing agak putus asa gitu untuk nyoba buat sendiri. 

Abis itu aku buka-buka sampe nemu blog Bento Mania,  disitu ada postingan tentang masakan korea, karena yang membuatnya orang Indonesia, dan beragama Islam jadi kaya dapet pencerahan dan motivasi untuk nyoba buat masakan korea sendiri, dan tentunya dengan bumbu yang halal. Apalagi disini untuk menemukan bahan-bahanya lebih gampang dan murah. Wahh jadi membara nih semangatnya !

Jadi, ada beberapa minggu yang beneran menghipnotis aku dengan tontonan kuliner itu. Yah sedikit mengobati sih…lumayan lah.

Dan setelah masa-masa 'kritis' itu berlalu, mulai deh aku mulai jarang lagi liatin channel-channel itu, sekarang bukan saatnya ngiler dan menggigit jari (karena pengen), tapi udah saatnya membuat masakan indonesia sendiri dengan bahan yang tersedia disini.

Alhamdulillah disini banyaak banget yang bisa didapatkan, jadi kenapa juga aku fokus sama yang sulit diwujudkan kalo ternyata banyak juga yang bisa aku buat. Dari cemilan, sampe lauk-pauk.
Aku suka buat cireng, cimol, bakwan,roti-rotian, pernah juga buat bubur kacang hijau. Intinya mah masih ada yang bisa dibikin disini. Alhamdulillah aku senang๐Ÿ˜š๐Ÿ’™

Ini saatnya menikmati apa yang ada disini (yang bakal dikangenin saat balik ke Indonesia nanti, insya Allah). Meski begitu gabisa dibohongin sih, aku masih suka pengen kalo liat instagram, dari foto/video temen, ataupun akun tentang cooking (yang ini dibuka dengan sengaja.haha). 

POSTING MAKANAN

Sebenernya bebas-bebas aja orang mau posting makanan/minuman. Ga ada yang melarang, menurut kesimpulan aku pribadi ada beberapa alasan mengapa orang suka mengupload foto makanan/minuman, diantaranya : mengenang waktu/even saat makan makanan tsb, mengabadikan pengalaman saat berhasil membuat sendiri (plus sharing resep), pengen ikutan orang lain, pengen buat orang lain ngeces (prasangka buruk nih ๐Ÿ˜ƒ), ada yang hobi atau sekedar iseng belaka. 

Mungkin ada diantara makanan itu yang ‘biasa aja’ rasanya, gak terlalu WAHH. Tetapi sudah menjadi keharusan dan kebiasaaan pribadi tsb untuk mengupload, dan gimanapun rasanya efek nya memang besar sih, siapa tahu disana ada yang sedang keroncongan, dan sangat tersiksa dibuatnya, haha.
[Karena itu aku jarang banget posting makanan, yaa begitulah aku tahu rasanya… hahaa.]

Tetapi sekali lagi, “akun siapa, foto siapa, kamera siapa, kenapa situ yang repot. Tinggal merem aja, gampang kan ?” wkwkwk

Dan juga, ga semua posting makanan itu negative sih, bisa jadi penghibur hati yang kangen seperti daku ini. Beneran, jadi merasa sedikit terkikis rasa kangenya.

Intinya balik lagi ke niat masing-masing! Semuanya ada pertanggungjawabanya (iih ko serem?!) ๐Ÿ˜‹

Maaf kalo jadi keluar dari jalur. Oiya aku ga ada maksud menyindir siapapun, cuma lagi mencurahkan opini aku dalam hal ini. 

Maaf kalo ada yang tidak berkenan ๐Ÿ˜‡

PENUTUP

Okelah sampai disini dulu yaa, Alhamdulillah atas segala keadaaan, Alhamdulillah atas semua yang Allah beri, semua hal yang patut disyukuri jangan sampai terlupa karena memikirkan hal yang belum rejeki ๐Ÿ’“










Minggu, 15 Januari 2017

Kepergianya





2 Januari 2017 , pagi itu berita duka datang…nenekku meninggal dunia di usianya yang ke 80 tahun, innalillahi wa inna ilaihi rajiun. Kita adalah milik Allah dan kita pasti akan kembali kepada-Nya.
Beliau adalah adik kakeku dari abi (bapak), beliau sudah lama sakit dan sempat dirawat di rumah kita sampai hari-hari terakhir-nya, saat beliau wafat beliau sedang dirawat di Rumah sakit karena kondisinya yang melemah.

Beliau sangat lembut, suka memuji meskipun itu hal-hal kecil. Memang, setiap yang berusia lanjut memiliki sifat kekanak-kanakan, seperti cepat emosi karena hal sepele, rasa tidak puas atas pelayanan yang diberikan kepadanya, tapi itu semua hal yang wajar apalagi beliau sedang diuji dengan sakit yang membuatnya tidak bisa bangun dari ranjang kecuali dengan kursi roda dan itupun digotong. (semoga sakitnya menjadi pelebur atas dosanya.Amin).

Karena keadaan rumah tak selalu ramai, terlebih lagi saat masa sekolahnya adik2, (karena kebetulan saya saat itu kuliah di luar kota) siang hari begitu sepi dan sunyi, hanya terdengar suara alat masak di dapur dan suara mesin cuci yang bekerja, tetapi beliau selalu memanfaatkan waktunya dengan berdzikir (bahasa beliau: wirid). Hanya itu yang dapat dilakukan diatas kasur tanpa tenaga, meski begitu hanya orang-orang pilihan Allah yang akan diberi taufik/kemudahan untuk selalu membasahi bibirnya dengan dzikir. [Kadang juga umiku (ibu) menyetel parabola berisi ceramah islami dan bacaan Al-Qur’an dengan niat supaya dapat meramaikan suasana dan menambah Islamic spirit khususnya untuk nenekku].
 
Bahkan saat penglihatan beliau masih bagus, dengan bantuan kacamata, beliau duduk dan membaca Al-Qur’an dengan semampunya, meski lambat dan sedikit kesulitan dikarenakan faktor usia dan juga rasa sakit, tetapi beliau tidak putus asa.

Tak jarang beliau memanggilku agar aku mendengarkan hafalan do’a beliau dan menjawab soal beliau berkaitan dengan arti do’a tertentu atau kalimat dzikir tertentu (saat aku sedang libur kuliah, dan kebetulan jurusanku bahasa arab).

Untuk seumuran beliau itu sangat luar biasa, beliaupun masih diberi ingatan yang kuat oleh Allah, tidak pikun (terbukti dengan banyak do’a yang beliau hafal), masih sibuk dengan dzikir dan ibadah, mengingat banyak yang diakhir hidupnya dihabiskan dengan hal tidak berguna atau sia-sia, karena katanya masa tua seseorang adalah cerminan dari masa mudanya.

Aku punya teman, salah satu kerabatnya sudah lanjut usia dan sudah pikun, tetapi dia selalu mengerjakan sholat, dan karena pikunya tersebut bahkan dia berkali kali mengerjakan solat yang sama, tetapi bagaimanpun juga itu termasuk kelebihan, karena masih diberi taufik untuk beribadah kepada Allah.

Aku yang saat mendengar kabar duka tersebut sedang di korea selatan, sebenarnya tidak terlalu kaget, karena ini jalan terbaik yang Allah kasih untuk menyegerakan kebahagiaan beliau dan mencabut rasa sakitnya. Meski begitu rasa sedih pun kerap menyelimutiku seharian itu. Dan air mata tak dapat kubendung lagi. Bagaimanapun juga keberadaan beliau di tahun-tahun terakhir ini membuatku merasakan kehangatan seorang nenek. Alhamdulillah ๐Ÿ’—

Hanya berdo’a dan mengenang kenangan indah (dan lucu) bersama beliau yang dapat kulakukan.

Dan salah satu alasan tulisan ini dibuat pun untuk mengenang beliau dan aku berharap pembaca yang baik hati turut mendo’akan beliau, aku tidak berharap anda berdo’a disetiap sujud anda, paling tidak selesai membaca tulisan ini, kalau berkenan mohon do’a yang baik untuk beliau yang sedang sendirian di alam kubur sana (insya Allah beliau bertemankan amalan sholeh beliau yang harum dan nyaman dipandang). Lihat hadits Al-barra bin azib tentang nikmat dan adzab kubur.