hanya menulis apa yang membuatku senang saat membacanya~

AHLAN

Selamat datang di blog ini.
Enjoy Reading !

Rabu, 01 April 2020

Bentuk Kebohongan Pada Anak


“....Hati-hatilah kalian dari berbuat dusta, karena sesungguhnya dusta akan mengantarkan kepada kejahatan dan kejahatan akan mengantarkan pada neraka.” (HR. Muslim no. 2607)

Meski tidak ada seorangpun yang merasa senang dibohongi, kenyataanya masih banyak orang yang suka berbohong, baik secara sadar maupun tidak. Padahal, bohong itu merupakan sifat yang tercela. yang memiliki dampak yang buruk bagi pelaku dan juga korbannya.

Contohnya dalam pengasuhan, banyak orangtua yang tidak menyadari betapa seringnya mereka berbohong kepada anak. Sekalipun menyadari, mereka menganggap bahwa hal itu bukan definisi berbohong yang selama ini mereka yakini. Hanya karena objeknya adalah anak kecil yag polos, orangtua merasa kebohongan ini aman dilakukan.

Kebohongan akan mengikis kepercayaan si anak kepada orangtuanya, jika anak tidak dapat percaya pada orang terdekat dan terkasihnya, maka kepada siapa dia harus percaya?

Disamping itu, kebohongan akan membuat jarak antara orangtua dan anak, merusak kelekatan diantara mereka, yang semua itu diperlukan orangtua dalam mendidik anak dari kecil hingga besar nanti.

Bukankah orangtua adalah sumber utama pengetahuan dan kebaikan?
Siapkah jika nasehatnya tidak didengar oleh anak?
Darimana anak akan belajar nilai-nilai kebaikan dalam hidupnya?

Salah satu upaya untuk membangun kepercayaan dan kelekatan antara orangtua dan anak adalah dengan menghindari kebohongan sekecil apapun dan bagaimanapun bentuknya.

www.flickr.com

Berikut ini contoh bentuk kebohongan yang sering diucapkan orangtua atau orang dewasa kepada anak kecil:

1.Berniat Mengajak
“Ayo kita mandi, main air dan kapal-kapalan yuk!”
Ketika anak nurut ingin mandi dan sudah membayangkan bermain air, seketika ibu berfikir sambil melepas pakaian anaknya, “Duh lupa, perut anakku kosong, bisa masuk angin dia kalo main air kelamaan”
Berakhirlah anak mandi tanpa main air. Dengan mudah anak akan menyadari bahwa dia telah dibohongi, ibunya tidak menepati janji. Karena umur yang masih kecil, dia hanya menyimpan semuanya dalam memori, tidak mampu mengekspresikan lewat kata.

2.Bermaksud Memotivasi
“Ini suapan terakhir nak, aaaaaa”
Janji sudah terucap, tetapi masih ada sisa nasi di piring, akhirnya disuapkan 1 atau 2 sendok lagi. “Masih ada nih sayang, biar gak mubadzir....aaaa.”

“Ayo makannya dihabiskan nak, nanti ibu beliin es-krim deh”
Setelah makanan habis, si kecil ingin menagih es krim tetapi belum bisa mengucapkannya, seketika ibunya tidak membelikan eskrim, makai ia sadar dirinya telah dibohongi.

3.Bertujuan untuk Mengalihkan
Untuk mendiamkan anaknya yang menangis, ibu menggendongnya seraya berkata “Ayo cari cicak”, “Ayo lihat burung” di tempat yang tidak mungkin mendapatkanya. Anak mungkin akan berhenti menangis, tetapi ia merasa ditipu, ternyata tidak ada cicak maupun burung yang muncul.

"Ini pedas nak, lihat tuh ada merah-merahnya” padahal itu tomat, bukan cabe.
Saat mama ke dapur mengambil minum, anaknya memakan dan mendapati bahwa itu tidak pedas.

4.Berniat Menenangkan
“Kita mau ke dokter, tapi cuma mamah aja yag diperiksa, kamu ga akan disuntik”
Dengan harapan anaknya tidak rewel dan menangis di jalan menuju klinik, tetapi sampai di klinik ia disuntik.
Rasa kecewa dan merasa dibohongi akan membekas dalam hati, tidak akan pernah sepadan dengan ketenangan yang orangtua rasakan  saat anak tidak rewel di perjalanan.

"Udah jangan nangis lagi, ntar ada polisi yang dateng ke rumah"
"Cepet tidur, ntar ada anjing" Selain berbohong, anak bisa jadi penakut dan terbawa sampai besar.

5.Untuk Memberhentikan
“Bentar ya, mama pinjem HP nya dulu, mau lihat chat dari papa”
Setelah diberikan, HP nya diumpetin dan merasa berhasil telah membuat anaknya berhenti main HP. Mungkin iya, tetapi anak akan merasa diremehkan, dan ditipu.

8.Mengulur waktu
“Mama wudhu dulu ya, kamu tunggu di kamar sambal baca buku”
Ehh, mumpung anaknya lagi anteng di kamar, sekalian mandi aja deh dan keluar setelah sepuluh menit. Si anak merasa menunggu lama, mamah berbohong.

Wah aku ga akan percaya lagi sama mamah. Dikibulin mulu, jangan-jangan semua yang mamah omongin semuanya bohong?

“Sholat nak, biar Allah sayang”
“Jangan main gunting nak, tajam dan bisa melukai”
“Rapihkan mainannya biar kamu tidur dengan nyaman”
"Film ini ga bagus untuk ditonton"

Oke, next time aku ga akan dengerin mamah lagi. Dan aku akan ikuti cara mamah, berbohong dan lari dari masalah. 

KENAPA HARUS BERBOHONG? 

Diantara alasan kenapa orangtua berbohong pada anak adalah, malas menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi. Merasa tidak punya waktu untuk bicara panjang lebar. Tidak yakin bahwa anak akan mendengarkan omongannya. Atau tidak terbiasa melakukannya.

Berarti hanya butuh berlatih agar jadi terbiasa dan tidak sulit melakukannya. Jika orangtua konsisten meluangkan waktu untuk menjelaskan yang sebenarnya, maka anak akan percaya dan mudah diarahkan. Hubungan baik pun akan terjalin, kepercayaan akan terbangun, dan kebaikan akan menyertai.

BAGAIMANA JIKA NASI SUDAH MENJADI BUBUR?

Bagaimana jika sudah terlanjur janji dan tidak bisa ditepati? Terlanjur bohong tetapi menyesal?

Pertama, orangtua harus berusaha semaksimal mungkin untuk menepati janji meskipun tidak serius mengucapkannya, karena anak hanya menilai apa yang didengar & dilihat.

Bagaimana dengan klarifikasi??
Jika sesuatu terjadi diluar kehendak orangtua, maka klarifikasi dapat menghapus kesalahan tersebut, tetapi jangan selalu bergantung pada klarifikasi karena jika terus terulang anak pun akhirnya akan merasa bahwa itu hanya alasan ibu nya untuk melanggar janji.

Jadi untuk mempertahankan kepercayaan anak pada ibu, ibu harus berjuang menepati janji sederhananya, utamakan anak, meski harus bersimbah darah & menerjang dalamnya lautan, syukurnya ga harus separah itu kan?

Jika anak terlanjur tidak percaya pada orangtua, yang bisa dilakukan orangtua adalah memohon ampun pada Allah, memperbaiki sikap di depan anak, menambal luka anak dengan tidak berbohong lagi, menjadi orang yang jujur dan dapat dipercaya, semoga anak akan berubah dengan sendirinya karena melihat konsistensi kejujuran orangtuanya.

SHARE PENGALAMAN

Pernah suatu hari saya akan periksa di klinik di tempat Wafi biasa vaksin, Wafi bertanya kita mau kemana dan mau apa? Saya bilang bahwa kita akan ke klinik yang ada tempat mainannya tetapi yang akan periksa adalah ummi, bukan Wafi, Wafi hanya menemani dan akan bermain di ruang dokter. Sesampainya disana dan urusan saya selesai, saya mengatur jadwal vaksin Wafi yang sempat tertunda, maka tanpa diduga suster bilang bahwa sekarang juga Wafi bisa dapat vaksin, yang artinya Wafi akan disuntik saat itu juga. Tentu saja ini tidak seperti yang saya duga sebelumnya. Sepulang dari klinik saya terus meyakinkan Wafi bahwa tadi bukanlah yang ummi kira, ummi insya Allah ga akan berbohong pada Wafi. dsb.

Pernah juga saya membuat air madu dan sedikit jahe. Wafi bertanya itu apa, dan dia ingin meminumnya. Saya jelaskan dan berkata bahwa ini tidak begitu pedas, saya salah karena mengukur  minuman itu dengan standar lidah saya, ternyata minuman tadi membuat Wafi kepedesan, dan kejadian ini sempat terulang beberapa kali. Dan pada saat saya membuatkan air madu tanpa jahe untuk Wafi, dia menolak dan yakin bahwa itu air yang pedas. Memang sih warnanya kan tidak jauh berbeda. Akhirnya saya membuat air madu di depan Wafi, dia melihat bahwa saya hanya mencampur air dan madu, lalu dia mau meminumnya.

Anak bertindak sesuai insting yang terbangun, tidak melihat siapa pelakunya, tetapi apa yang dia lihat dan rasakan lewat pengalaman.

Saya rasa tidak adil jika seorang ibu berkata "Kok kamu ga percaya sih sama ibu, ibu ga bohong loh" , "Sama ibu sendiri kok gamau dengerin" mungkin saat itu ibunya memang tidak berbohong, tetapi bisa jadi lewat pengalaman anak, ibu pernah membohongiku, telah mengecewakanku jadi kali ini aku tidak ingin percaya, aku berjaga-jaga agar tidak kecewa lagi.


truththeory.com


TIPS MENGHENTIKAN KEBIASAAN BERBOHONG KEPADA ANAK

1.Aktifkan ALARM pada diri sendiri saat janji sudah terucap, dan kuatkan diri untuk menepatinya.
2.Temukan orang terdekatmu yang dapat menjadi reminder & support system untuk meninggalkan kebiasaanmu.
3.Jangan kabur dari masalah, jelaskan semuanya pada anak secara sederhana, meski mengambil waktu yang lama tapi insya Allah berbuah kebaikan.
4.Percaya pada anak, bahwa ia akan menurut dan tenang meski tanpa dijanjikan sesuatu, dan ia akan mendengarkan apa yang kita jelaskan dengan kasih sayang.
5.Maafkan masa lalumu, jika dulu orang dewasa di sekitarmu kerap kali berbohong padamu sehingga tanpa sadar kamu mengikuti jejak mereka, kembali kepada akal sehatmu di masa kini dengan pemahaman yang kamu miliki tentang betapa buruknya berbohong dan konsekuensinya.
6.Merenung, bayangkan anak mu tumbuh sesuai harapanmu, menjadi anak yang jujur, berbagi cerita dan masalahnya kepadamu. Maka jangan rusak harapanmu dengan kebiasaan berbohogmu. Karena 1000 kali kamu bilang "jangan bohong nak, Allah tidak suka" tidak akan mempan jika kamu terus memberinya teladan.
7.Tidak menjanjikan sesuatu jauh lebih baik daripada melanggar janji yang telah dibuat. Tahan lisanmu agar tak mengobral janji.
8.Berdoa dan meminta pertolongan dari Allah.

اللَّهُمَّ إِنِّى أَعُوذُ بِكَ مِنْ مُنْكَرَاتِ الأَخْلاَقِ وَالأَعْمَالِ وَالأَهْوَاءِ

"Ya Allah, aku berlindung kepadamu dari akhlaq, amal dan hawa nafsu yang mungkar.” (HR. Tirmidzi no. 3591, shahih)

Aamiin~

Jumat, 06 Maret 2020

Ketika Anak Mainan Lampu


CERITA WAFI -

Jika di siang hari ada apartemen dengan lampu menyala, besar kemungkinan itu adalah apartemen kami. Di dalamnya tinggal seorang anak berusia 2.5 tahun yang sedang belajar konsep gelap & terang. Tanganya yang mungil sudah mampu menggapai saklar lampu dengan mudah. Bermain lampu menjadi hobi barunya akhir-akhir ini.

Sebenarnya, hobi baru ini sudah dilakukan sejak Wafi belum genap 2 tahun, aku dan suami merespon sikapnya dengan tegas. Kalimat yang kami ucapkan sangat biasa, “Jangan main lampu, nanti lampunya rusak”. Wafi yang belum memahami kata-kata kami, sempat menangis karena kaget. Esoknya ia mengulang kembali aksinya, dengan dan  tanpa sepengetahuan kami. Karena di  on-of-on-of secara cepat, lampu kamar & ruang serbaguna menjadi konslet & mati. Saat itu, yang menjadi salah satu pencetus larangan kami adalah harga lampu yang cukup mahal, bisa mencapai 20 euros ( IDR 300 ribu).

Yang ada di benak-ku saat itu adalah bagaimana cara membuat Wafi berhenti bermain lampu. Karena selain karena harga lampu yang mahal, emosiku juga sering terpancing. Emosi yang aku rasakan lebih ke rasa takut. Aku takut Wafi menjadi anak yang membangkang karena “tidak mau mendengar kata-kata orangtua. Aku takut jika mainan lampu menjadi kebiasaan yang akan dilakukan Wafi sampai besar nanti. Aku takut jika ia suka bermain lampu di rumah orang atau di tempat umum. Di sisi lain, aku juga takut melukai perasaan anak kecil yang masih polos dan tak tahu kenapa dia dimarahi.

Aksi main lampu ini sempat berhenti beberapa bulan. Lalu, sekarang wafi sudah mulai bermain lampu lagi, dengan bentuk yang berbeda dari sebelumnya. Ia akan menyalakan semua lampu secara merata, meskipun di siang hari yang menyilaukan. Karena kemampuan berkomunikasinya sudah meningkat, aku jadi lebih mudah memberinya pemahaman. “Sekarang siang fi, di luar ada matahari jadi udah terang. Kita ga butuh nyalain lampu, malah jadi mubazir nantinya”. Kami tahu konsep mubazir belum dapat dicerna oleh otaknya. Yang ia tahu, menyalakan lampu membuat mobil-mobilannya menjadi terang, makanan di dapur menjadi terang, dll. Alasan itu ia utarakan padaku setiap kali menyalakan lampu: “Biar terang mwanyah (semuanya)”

Jika dilihat dari sudut pandang-ku sebagai orang dewasa, semua ruangan sudah cukup terang karena matahari. Aku dan suami sudah tidak lagi meninggikan suara. Meski begitu, aku tetap memberinya pemahaman, secara halus, tidak menyudutkan, dan tidak memaksa, aku belajar fokus ke niat baiknya, “Makasih ya fi, ruanganya jadi terang nih”. Syukurnya, sekarang sudah masuk musim dingin, jadi cahaya lampu tidak adu terang dengan matahari, karena sering tertutup awan.

Sebenarnya, penglihatanku sangat terganggu dengan cahaya lampu di siang hari, merasa sangat silau dan tidak nyaman. Tetapi disini akulah yang orang dewasa, jadi aku yakin bahwa yang harus sabar dan mengalah adalah aku, bukan sebaliknya anak 2.5 tahun yang harus memahami kondisiku yang sangat terganggu. Apalagi jika harus selalu "bersaing" mati-nyalain lampu dengan Wafi,, sudah terbayang bagaimana akhirnya. Lampu yang konslet dan aku jadi salah satu pelakunya, atau sikap amarah yang akan muncul, jiwa Wafi yang terluka, dan semua itu bukanlah yang aku harapkan.

Wafi, 26 September 2021 


Ibu Elly Risman, seorang psikolog pernah menjelaskan di salah satu seminar beliau yang aku dengar dari youtube bahwa anak kecil itu akan meresapi perkataan orang dewasa, mencerna nasehat dan pesan orangtua asalkan perkataan itu diucapkan dengan suara yang rendah, halus, dan tulus membimbing. Perkataan dengan nada tinggi yang penuh amarah diiringi dengan sikap kasar hanya akan meninggalkan luka di hati anak, anak pun tidak dapat menyerap nasehat orangtua dengan baik. Jadi aku optimis, dengan memberikan pemahaman secara perlahan, tidak menuntut hasil instan dari Wafi, insya Allah semua akan berakhir dengan baik.

Sesekali aku meminta pada Wafi untuk mematikan lampu pada ruangan yang tidak terpakai, dia menurut tetapi belum mengerti tentang pengecualian, jadi semua dia matikan. Dan untuk mendukung hal yang sedang dia sukai, Aku menugaskan dia untuk mematikan lampu-lampu saat malam hari sebelum tidur, dan saat akan pergi meninggalkan rumah.

Aku masih belajar menekan egoku sebagai orangtua yang ingin perkataanya didengar, karena aku tidak ingin didengar dengan rasa takut. Aku ingin didengar dengan rasa cinta nan tulus. Aku juga belajar mengikis rasa takut yang berlebihan, dan menjadi optimis bahwa ini ga akan berlanjut sampai Wafi besar nanti, karena aku bukan membiarkannya tanpa bimbingan. Aku berusaha menasehatinya dengan lembut. Yang terbesit dalam benakku adalah, jika kebutuhan anak sudah terpuaskan di masa kecil tidak akan terbawa sampai besar, lebih dari itu tidak ada luka yang tertinggal di hatinya, insya Allah. Aku juga optimis ia tak akan bermain lampu di rumah orang atau di tempat umum, karena rasa penasarannya sudah tersalurkan di tempat terbebas, rumahnya sendiri bersama manusia yang paling bisa memaklumi dan menerima sikapnya, ibunya sendiri. 

Aku tidak ingin banyak melarangnya, karena aku tidak ingin dia berhenti mencoba melakukan yang dia suka. Keberadaan aku dan suami sebagai orangtua memang bertugas untuk membimbing dan meluruskan tanpa mengharap hasil yang instan. Sampai kedepannya aku berharap pada Allah agar memberi kami ilmu yang bermanfaat dalam mendidik dan membesarkan anak. Karena kami tahu, hal kecil yang kami lakukan akan tumbuh bersamanya dan membentuk karakternya. 

Kami tahu bahwa pola parenting yang kami lakukan bukanlah satu-satunya yang paling sempurna, kami hanya berusaha untuk menciptakan kenyamanan dan kedamaian di rumah kecil kami, toh hasilnya kami yang rasakan sendiri. Lampu yang tidak rusak lagi, Wafi yang memiliki kebebasan mengexplore apa yang dia bisa, sambil belajar tentang mubazir, hemat, dan melayani sekitar lewat sudut pandangnya (dengan memberikan cahaya lampu agar terang), juga tidak adanya keterlibatan amarah kami.

Sekarang, sudah dua bulan berlalu sejak pertama kali aku tulis cerita ini. Wafi sudah berhenti main lampu, masa aktif main lampu hanya bekisar hitungan bulan, dan SELESAI begitu saja. Ya! Ketika anak mainan lampu, itu ada masa tenggangnya. Tidak akan berlangsung selamanya, karena semua ada masanya. Makhluk kecil yang baru kenal dunia, wajar saja jika ingin mencoba banyak hal, penasaran terhadap sesuatu sehingga melakukannya berulang kali. Bukan begitu?


Minggu, 27 Oktober 2019

Puding Beras khas Turki



Puding beras Turki ini namanya sütlaç. Teksturnya lembut, rasanya manis-gurih, dan cara membuatnya super duper gampang.

Di youtube banyak resep sütlaç dengan berbagai tambahan pada resep , disini saya mau share yang pernah saya coba, dan hasilnya sudah cukup oke. Gak tahu seberapa mirip sama yang asli nya, karena jujur belum pernah nyoba yang asli 😋

Bahan:
3 sdm beras mentah
1 cup air
5 cup susu
2 sdm gula, atau sesuai selera
1/2 cup tepung maizena

Cara membuat:
-Cuci beras, lalu rebus di dengan 1 cup air. Tutup panci dan gunakan api kecil.
-Setelah air menyusut, tambahkan susu dan gula, aduk-aduk hingga rata dan hampir mendidih.
-Masukkan tepung maizena yang sudah di encerkan dengan air.
-Aduk hinnga mengental.
-Pindahkan ke mangkuk kecil,
-(dengan oven) Panggang di oven hingga bagian atas puding menjadi kecoklatan. Siap dinikmati saat hangat.
-(tanpa oven) Masukkan ke dalam kulkas. Siap dinikmati saat dingin.


sesaat sebelum dipanggang

Selamat mencobaaa :)


Senin, 23 September 2019

Cookies Sehat Hanya Dengan 2 Bahan!





Para pecinta camilan lezat, sehat dan cepat….buruan merapat! 

Cookies rendah gula yang aman dikonsumsi oleh anak kecil hingga dewasa, kini dapat kalian hadirkan di rumah, dengan bahan yang mudah didapat. Proses membuatnya juga akan jadi aktifitas yang menyenangkan untuk anak-anak, tentu saja dengan bimbingan dan pengawasan orangtua.

Yuk kita mulai!



Bahan utama:
3 cup kecil OAT
1 buah PISANG ukuran sedang

Tambahan (dapat disesuaikan dengan selera):
kacang iris (untuk topping)
coklat bubuk
keju
kismis atau buah kering diiris kecil
selai buah
dll.

Cara membuat:
Lumatkan pisang matang dengan garpu, campur dengan oat hingga merata, lalu campur dengan bahan lainnya hingga menyatu. (jika menggunakan banyak bahan, dapat tambahkan pisang agar adonan dapat dibentuk).

Lalu bulatkan adonan dengan ukuran kecil, susun di loyang yang beralaskan kertas roti (atau dioles mentega), beri jarak di setiap adonan, lalu pipihkan dengan tangan dan beri topping.


Panggang di dalam oven 180 derajat celcius sekitar 10 menit, bisa juga di atas teflon yang ditutup dengan api kecil.

Setelah matang, hidangkan dan nikmati, hangat maupun dingin tetep enak :)

Tekstur yang diinginkan bukan renyah seperti biskuit yaa, tetapi lembut dan mudah digigit.

Kurang-lebih, seperti inilah hasil akhirnya 
Selamat mencoba! Jangan menyerah jika gagal di percobaan pertama yaa :)
Sekian dulu, bye!

Kamis, 12 September 2019

5 FAKTA TENTANG FINLANDIA






Finlandia merupakan  negara terbesar kedelapan di Eropa dengan jumlah penduduk terendah di Uni Eropa (source: Wikipedia). Tidak heran jika negara ini terasa sangat sepi.

Delapan bulan memang bukan waktu yang cukup untuk mengenal negeri yang baru saya tinggali. Meski begitu, dengan pengetahuan & pengalaman saya yang minim, saya akan menggambarkan sedikit tentang negeri yang 70% nya masih berupa hutan ini.

Saya tahu, Finandia terlalu besar jika hanya digambarkan dengan 5 hal.  Negara yang musim dinginnya mencapai minus tigapuluh ini banyak membuat banyak orang tidak betah tinggal di dalamnya, tanpa sengaja saya menemukan hal positif yang membuat saya betah tinggal disini, berikut fakta "positif" Filandia:

1.Gratis naik transportasi umum.


Setiap pengguna kursi roda, pembawa kereta dorong bayi, dan para orang tua yang menggunakan walker beroda, GRATIS naik semua jenis transportasi umum, dari Bus, Kereta, Metro, maupun Tram.
Oleh karena itu, di setiap transportasi umum ada tempat khusus untuk stroller bayi dan kursi roda.

Kok bisa gratis?

Tempat membayar tiket umumnya terdapat di pintu depan, tempat penumpang lain memasuki bus, sedangkan penumpang 'khusus' ini memasuki bus dari pintu tengah, jadi sulit bagi mereka untuk membayar, dan anak yang ada di stroller menjadi tidak aman jika harus terpisah dari orangtuanya.

Meskipun Kereta, Tram dan Metro memiliki tempat untuk men-"tap" kartu (membayar tiket) yang mudah dijangkau oleh semua kalangan, hal ini tidak merubah kebijakan pemerintah tentang tiket gratis tersebut.

Lihat selengkapnya di sini.


(foto tram: flickr.com-allanscotson)



2. Minum dari air kran

Sebagian besar negara Eropa memiliki air kran yang aman untuk diminum, air kran Finlandia sendiri termasuk air terbersih di dunia.

Ini termasuk hal yang sangat saya syukuri karena dengan begitu saya tidak perlu nyetok galon ataupun air mineral botol. Praktis dan ekonomis 😁

Oleh karena itu, sebagian besar air mineral yang di jual di minimarket adalah berkarbonasi, dengan kemasan yang hampir 100% mirip air mineral biasa, dijual dengan banyak varian rasa. 

Saat awal pindah ke sini, agak sulit membedakan di antara dua jenis air mineral itu, saya sering terkecoh dan salah beli, dikira air biasa ternyata setelah diminum rasanya seperti diserbu jutaan semut, saya sangat tidak suka!

3. Banyak playground gratis.

Saya tidak tahu bagaimana di negara lain, tetapi di Finlandia banyak sekali tempat bermain anak, indoor maupun outdoor, gratis tanpa dipungut biaya sedikit pun.

Bahkan, setiap wilayah apartment  memiliki taman bermain, umumnya terdiri dari ayunan, prosotan, kuda-kudaan, dan tempat main pasir. 

Di sekitar saya tinggal pun ada beberapa outdoor playground di tempat yang berbeda. Di dekat day- care, play-group maupun TK selalu ada outdoor playground yang terbuka untuk umum, lebih beragam permainannya dan lebih luas tempatya.

19-05-19/ Playground samping day-care terdekat.


26-08-19/ Salah satu mainan favorit Wafi, di sekitar apartment.

10-09-19/ Tempat yang sangat teduh ini berada di sekitar apartmet,


Kalau Indoor Playground biasanya ada di dalam mall, itu juga gratis. Jadi saya senang sekali karena bisa mengajak Wafi bermain di berbagai tempat, tanpa rasa bosan. Alhamdulillah❤

4.Tunjangan dari pemerintah.

"Negara yang paling bahagia" memang sebutan yang cocok untuk Finlandia, negara sosialis ini memberikan banyak "benefit" untuk masyarakatnya. Mencakup Ibu rumah tangga yang megurus anak di rumah, pengangguran, anak di bawah 17 tahun, penyandang disabilitas, dll.

Oleh sebab itu, pemandangan keluarga yang memiliki tiga anak atau lebih, cukup umum disini. Selain biaya melahirkan ditanggung oleh pemerintah, biaya perawatan hingga pendidikan pun bukan lagi menjadi persoalan besar. 

Mereka diberikan berbagai kemudahan dari segi perkembangan anak, pendidikan hingga urusan transportasi seperti pada point nomor satu di atas.

Banyak anak banyak 'rezeki'.

5. Orang Finland sangat Introvert (tertutup).

Berbeda dengan penduduk Indonesia yang terkenal ramah, di Finlandia tidak semua orang suka tersenyum meski mata bertemu pandang. Mereka sangat tertutup, cuek pada urusan orang lain, dan punya 'dunia' sendiri. Ini kabar baik buat saya yang tidak bisa basa-basi. Jadi saat di tempat umum saya merasa nyaman karena tidak perlu mencari ide untuk memulai pembicaraan dengan orang asing.

Level introvert mereka benar-benar ajaib, sampai-sampai duduk bersebelahan dengan orang asing di dalam bus pun mereka enggan, mereka akan mencari sepasang bangku kosong di bus untuk mereka tempati, jika ternyata bus penuh dan terpaksa duduk di samping orang lain, mereka akan pindah tempat saat ada bangku lain yang kosong.

Dengan mengetahui budaya mereka ini, saya selalu berusaha memilih (sepasang) bangku kosong di bus dan tidak duduk di samping mereka, untuk menghargai mereka.




Saat menunggu bus di halte mereka memberi jarak, tidak peduli hujan gerimis, anging kencang, maupun salju lebat. 

Dari pribadi mereka yang unik ini, aku jadi  belajar lebih tentang perbedaan dan cara menghargainya. 

***

Sekian---

Senin, 10 Desember 2018

Yang Dikenang dari Orang Korea Gumi :)


warna oranye : Cham-Mate, warna biru : GS 25 * 20-10-17


Hi readers..

Assalamualaikum, uwahh....lama banget ga post di blog :( rasanya blog ini sudah banjir dengan air mata rindu pada penulisnya .hihi

Sebenarnya, banyak hal yang sudah aku tulis dari setahun yang lalu, masih mengendap dikarenakan penulisan ku yang masih butuh banyak editing, terlebih lagi tulisan Tentang Korea, aku saja sudah setengah tahun angkat kaki dari negeri gingseng itu, daripada tulisan ini semakin basi, lebih baik saya post dengan hasil yang pas-pasan.

Selamat membaca !


*****

Setiap komunitas, pasti ada orang baik dan orang 'belum' baik, di setiap kelas pasti ada anak penurut dan anak terlalu aktif, begitupula di Korea Selatan ini, kita tidak bisa men-generalisir, bahwa semua orang Korea itu judes dan tidak ramah.

Orang Indonesia terkenal ramah, mudah tersenyum dan menyapa orang yang berpapasan di jalan, walaupun kepada orang yang belum dikenal.

Sedangkan orang Korea, sangat cuek sehingga terkesan tidak ramah. Harusnya kita memulai adat yang sangat indah ini, mungkin pada awalnya akan terasa asing karena bisa jadi mereka tidak merespon saat anda menyapa, tetapi kebaikan sekecil apapun pasti tidak akan sia-sia.

Sebenarnya bukan hanya saya yang memikirkan ide ini, karena teman Thailand saya (teman kursus bahasa korea) yang selalu menyapa mahasiswa di kampus nya setiap naik lift bersama juga dalam segala keadaan, meskipun dengan sedikit usil, hehe.

Alhamdulillah selama tinggal disini, aku tidak menemukan masalah atau 'serangan' dari warga asli Korea mengenai penampilanku (bergamis dan berjilbab panjang), kalau hanya lirikan penuh tanda tanya atau merasa aneh itu sudah biasa, bahkan di Indonesia pun kerap kali mendapati reaksi seperti itu dari masyarakat yang belum terbiasa dengan cara berpakaian muslimah yang serba tertutup dan tidak mencolok.

Dari menginjakkan kaki di Korsel, di subway kota Seoul banyak sekali mata yang melihat kami, sebenarnya wajar saja karena kita kan muka orang asing disana, belum lagi dengan jilbab dan gamisnya, tetapi tidak ada yang sampai memaki atau berani main tangan, Alhamdulillah atas penjagaan-Mu ya Allah.

Padahal Seoul itu kota besar yang sangat beragam penduduknya, banyak pendatang dan tidak sedikit dari mereka yang mengenakan jilbab. Jadi mereka sedikit terbiasa dengan penampilan yang agak menarik perhatian ini, hanya saja beberapa orang tua masih aneh melihatnya.

Sesampainya di kota tempat kami menetap, Gumi. Kami tinggal dekat dengan kampus, di kampus itu banyak mahasiswi Indonesia juga Malaysia yang sebagianya ada yang berjilbab, jadi Alhamdulillah di lingkungan kami, ini bukan masalah besar.

Tetapi saat pergi ke pasar tradisional yang kebanyakan orang-orang tua, dan sebagianya mungkin belum sampai pada mereka apa itu islam, dll. Mereka sangat tidak terbiasa melihatnya, beberapa kali berpapasan dengan nenek-nenek yang berbisisk2 mengomentari penampilanku, tp tidak secara lsngsung dan aku yang tidak memahami bahasanya merasa enjoy dan keep going, anggap saja tidak ada yang terjadi, bagiku sebatas pandangan dan lirikan aneh itu bukan masalah.

Anyway, banyak orang korea asli yang kutemui, dan aku memiliki kesan yang baik pada mereka, diantaranya :

1. Tante Geumo-san. 

Kami bertemu tante ini saat kami pergi ke geumo-san, gunung di kota Gumi, pada musim gugur (2016) jadi banyak sekali yang menghabiskan weekendnya untuk mendaki gunung, hebatnya, banyak diantara mereka orang lanjut usia. Ada seorang wanita tengah baya menghampiri kami yang sedang berjalan (dan ikut jalan bareng) sambil bertanya tentang banyak hal, terlihat antusias dan aku merasa disambut, aku saat itu banyak diam karena dia bicara pake bahasa korea, suami aku yang menjawabnya.

Selama naik ke gunung pun, banyak yang menyapa “Anyonghaseo” atau aku yang memulai menyapa jika ada yang menatapku lama, ada juga yang sampai menawari jasa untuk mengambilkan foto kami berdua.

2. Immo (bibi ) & Samchoen (paman) Cham-Mate

Di samping apartemen kami ada 3 buah minimarket, yang terdekat adalah Cham-Mart (ejaan korea : Cham-Mate), lalu ada GS25, dan  C-U (si yu).

Yang menyediakan sayuran dan buah-buahan adalah cham-mate, toko terdekat dari gedung apartemen, buka 24 jam. Pemiliknya adalah pasangan ibu dan bapak yang sangat ramah, jaga dari jam 8 pagi sampai jam 10 malam, diatas jam 10 malam hingga jam 8 pagi, ada yang bergantian kerja partime disitu, (pemuda).

Aku sering bolak-balik belanja di sana, dan selama ini mereka sangat baik sekali, pernah sesekali aku diberi jeruk sekantong plastik, dan  ibu itu beberapa kali pernah menggratiskan barang yang sudah lama, aku pernah beli ubi (tinggal 1 kantong) dan ibu itu bilang kalo ubinya dia gratiskan karena sudah tidak fresh lagi, (aku tidak mengerti arti perkatanya, tetapi aku dapat memahami  maksudnya) pernah juga, sawi putih kecil yang ujung nya sedikit rusak, itupun di gratiskan-nya.

Bapaknya, jika ada kembalian 50 won (sekitar 500 rupiah), ia tidak hanya memberikan koin tersebut, tetapi plus satu bungkus keju berisi 3 slice, diberikanya secara gratis, itu sudah 2 kali kejadian. Aku jadi mikir gini, mungkin karena tidak enak harus mengembalikan 50 won saja.

Saat musim dingin (2017), kami memiliki masalah saluran air yang membeku, saat itu aku akan membeli alat pompa WC , kebetulan si ibu yang sedang menjaga, alhasil aku sedikit curhat tentang mampet nya saluran air, lalu dia sarankan untuk membeli cairan pelarut es, khusus dipakai saat musim dingin, dan aku dilarang membeli pompa karena itu bukan solusi yang tepat, Alhamdulillah...malam itu juga kamigunakan cairan tsb, lalu esoknya masalah ini beres, "immo-nim, gomawoyoo......" (Bibi...terimakasih!!)

Saat baby kami sudah memasuki masa MP-ASI si ibu pernah memberikan pisang dan snack bayi untuk baby W.

Seumur mereka jika di Indonesia dipanggil, ibu & bapak, tetapi di Korea supaya lebih enak dipanggil bibi & paman.

3. Tante Sakura.

Saat musim semi-ku yang pertama (2017) aku jalan-jalan di kampus suami, untuk foto-foto bunga sakura, saat duduk di tepi lapangan bola ada tante-tante menghampiriku dan sedikit berbincang denganku, aku yang saat itu sudah lebih mengenali bahasa korea bisa tanya jawab ringan, sesekali dia cari translate nya di HP dan menunjukkan-nya padaku, sekitar kurang lebih 20 menitan kita ngobrol banyak, hingga tak terasa waktu maghrib hampir tiba, akhirnya kita pulang bareng dan berpisah di pertigaan.

Mungkin yang ada di benak aku, kenapa orang korea jarang ada yang ngajak ngobrol duluan, karena bahasa inggris mereka tidak terlalu lancar, dan untuk bicara dengan orang asing biasanya memakai bahasa inggris, jadi mereka lebih memilih diam, cari aman saja :)

Tetapi banyak juga yang tidak lancar bahasa inggris tetapi berani menyapa dan ngobrol dengan bahasa korea.

Karena alasan bahasa juga, aku tidak menyapa orang korea dan bicara banyak, karena bahasa korea ku terbatas,

Jika kita bandingkan di Indonesia juga, kalo ketemu bule –misalnya- pasti orang pribumi agak segan gimana kan mau ajak ngobrol, apalagi yang bahasa inggrisnya kurang lancar, jadi kurang percaya diri, belum lagi kita anggap orang-orang bule itu sombong seperti susah didekati..tetapi senang jika ada bule yang bertanya duluan, meminta bantuan kita.

Sama saja dengan disini.

3. Eonni (kakak perempuan) yang baik hati.

Selama mengandung baby W, saya disarankan rutin check-up ke klinik bersalin, jadwalnya teratur , sekali kunjungan di tiap bulan. 

Dia adalah teman satu lab kerja dengan suamiku, meski umurnya jauh diatas kami, kami tetap enak ngobrol sama dia,dia lebih suka dipanggil dengan namanya daripada dengan embel-embel eonni, setiap kali konsul dia mengantar kami dengan mobilnya dan menyetirnya sendiri, membantu menerjemahkan apa yang dokter kandungan ucapkan, setia menemani ku sampai baby W lahir, dan membantu saat terakhir keluar dari menginap di klinik, memberikan hadiah untuk baby W, kami sangat bersyukur kenal dengan orang baik seperti dia...terharu !!

Tidak habis pikir dengan kebaikan hatinya, tidak merasa terbebani sedikitpun, kami berdua berharap semoga dia diberikan cahaya dalam hidupnya yang menjadikan kehidupannya lebih baik lagi.


***

Allah lah yang mempertemukanku dengan orang baik seperti mereka, salah satu yang membuatku betah tinggal di Gumi, i'm feelin blessed :')


Untuk Para Owner / Admin Olshop : Penolong para pemburu barang online~





Untuk kalian....

Yang mencari rezeki Allah lewat jendela internet.

Yang telah berusaha menafkahi keluarga, mencukupi diri sendiri, mengasah bakat hebat kalian.

Yang sangat kreatif menyusun kalimat promosi, hingga seperti puisi.

Terimakasih telah menyelamatkan kami dari teriknya pertokoan dan panjangnya antrian.

Terimakasih telah membalas chat kami disela sibuk bekerja, sekolah, atau sebagai ibu rumah tangga.

Terimakasih telah membungkus paket kami dengan cekatan sehingga aman sampai ke tangan.

Tahukah kalian....?

Ketika kami tertarik membeli, kami akan kontak kalian.

Ketika kami bimbang, kami akan berdiskusi dan tanya-tanya seperti yang telah kalian persilahkan,"Feel free to ask" atau "Tanya-tanya dulu juga boleeh".

Terimakasih karena kalian tidak menuliskan "Jika belum tentu beli, jangan tanya-tanya!".

Ketika kami yakin akan membeli, kami akan langsung transfer, karena kami butuh.

Ketika kami puas dengan barang yang kami beli, kami akan beri testimoni.

Ketika kami belum sempat memberikan testimoni, kami akan ucapkan "Terimakasih atas pelayanan kalian".

Ketika kami tidak jadi membeli setelah bertanya ini-itu, itu adalah keputusan akhir kami.

Kita sama-sama tahu.

Layaknya belanja di pasar, belanja online pun ada kalanya berbumbu ke-cerewetan.

Kami tidak bertanya untuk memberi kalian harapan palsu.

Kami tidak bertanya hanya untuk mempermainkan perasaan kalian.

Kami tidak bertanya hanya untuk membuat kalian repot menjelaskan ini-itu,  lalu kami tinggal begitu saja.

Maafkan kami, ketika sudah hampir deal kami berubah pikiran.

Maafkan kami, ketika sudah ditotal kami tidak langsung transfer karena duitnya butuh buat itu-ini, lalu lupa konfirmasi.

Maafkan kami yang kurang sopan, ketika tidak jadi membeli, kami langsung kabur.

Maaf jika bahasa kami kurang halus saat meng-cancel barang yang belum kami keep.

Maafkan jika cara kami dalam berkomunikasi kurang cocok dengan harapan kalian.

Terimakasih telah bersaaabar banyak atas kami.

Semoga Allah berkahi waktu, harta dan keluarga kalian selalu ♥


Dari :

Customer
Calon customer
Mantan customer